aku berjalan kian tiada berdaya
bayang-bayang itu dengan mudah menyerap hasratku
mengurungku dalam malam kelam
ku perangi dia dengan hatiku
anyir darahku yang mampu mengusir bayang itu
sejuta pesona derai-derai duri
memainkan lagu irama angin-raja neraka
irama itu menitah, menggoda, membuai
angan sadar akan olehnya
tertitah, tergoda, terbuai
tangisku mengalir bersama air sungai ke hilir-hilir
aku, entah rahwana atau siapa
kian abadi, berkembang menebar wangi busuknya
buah bibir teramat manis bukan kepalang (aku)
menebar semut, lalu bertahta mendarah daging dalam jiwa
gerbang batinku dengan dunia fana tertutup rapat
ingin kubuka
membiarkan semilir angin masuk, menyusup-susupi tubuhku
tapi, dua windu sehari yang lalu kunci itu berkarat
aku bingung, sekali lagi bingung, semakin bingung
tangisku terukir di balik sanubari terdalam
ia seolah begitu sayang aku
memeluk erat nyawa batin setiap waktu
sebatang kara tak berayah tak beribu
padaku ia mengaku
sewindu sehari yang lalu, ia datang padaku
Kamis, Juni 11, 2009
Jumat, Mei 22, 2009
Dia Telah Berubah
Wahai saudara ku, kau telah berubah
Ada sesuatu yang telah hilang
Tapi, kau tak merasakannya
Pertama, aku ikatkan rantang nasi pada tas kuliah mu
Terucap sebuah do’a semoga kau lekas sembuh
di dalam kesulitan yang kau rasakan
Hingga seterusnya, saat–saat yang menenangkan hati
Ketika aku melepas lelah sebab seharian mencari dinar
Kau bermain-main dengan komputer baru mu
Mendengarkan lantunan kyai Kanjeng
Jangan bersedih duhai kekasih
Daku pahami hatimu yang perih
Hadapilah dengan jernih
Berhentilah merintih-rintih
Hingga selesai kemudian terputar lagi
Sampai bulan kian indah menemani dingin angin malam
Itulah yang indah bagiku entah untuk mu
Kini, indah itu sirna hilang
Kau telah pandai mencari ketenangan sendiri
Daun-daun mu mulai naik, menghijau segar
Rantang ku mulai berkarat, tak berarti lagi bagimu
Tahukah kau?
Betapa aku merindukan indah itu
Tapi, haruskah aku berteriak di tengah jalan agar kau tahu?
Berteriak keras bak orang gila?
Tidak, sekali-sekali tidak
Aku tak mau mendekat
Sebab aku tak mengaharap balas bukan pula penjilat
Mungkin, tugas ku telah usai
Kan ku coba menikmati lantunan itu
Tanpa dirimu yang begitu mudah melupakan aku
Ada sesuatu yang telah hilang
Tapi, kau tak merasakannya
Pertama, aku ikatkan rantang nasi pada tas kuliah mu
Terucap sebuah do’a semoga kau lekas sembuh
di dalam kesulitan yang kau rasakan
Hingga seterusnya, saat–saat yang menenangkan hati
Ketika aku melepas lelah sebab seharian mencari dinar
Kau bermain-main dengan komputer baru mu
Mendengarkan lantunan kyai Kanjeng
Jangan bersedih duhai kekasih
Daku pahami hatimu yang perih
Hadapilah dengan jernih
Berhentilah merintih-rintih
Hingga selesai kemudian terputar lagi
Sampai bulan kian indah menemani dingin angin malam
Itulah yang indah bagiku entah untuk mu
Kini, indah itu sirna hilang
Kau telah pandai mencari ketenangan sendiri
Daun-daun mu mulai naik, menghijau segar
Rantang ku mulai berkarat, tak berarti lagi bagimu
Tahukah kau?
Betapa aku merindukan indah itu
Tapi, haruskah aku berteriak di tengah jalan agar kau tahu?
Berteriak keras bak orang gila?
Tidak, sekali-sekali tidak
Aku tak mau mendekat
Sebab aku tak mengaharap balas bukan pula penjilat
Mungkin, tugas ku telah usai
Kan ku coba menikmati lantunan itu
Tanpa dirimu yang begitu mudah melupakan aku
Langganan:
Postingan (Atom)