Wahai saudara ku, kau telah berubah
Ada sesuatu yang telah hilang
Tapi, kau tak merasakannya
Pertama, aku ikatkan rantang nasi pada tas kuliah mu
Terucap sebuah do’a semoga kau lekas sembuh
di dalam kesulitan yang kau rasakan
Hingga seterusnya, saat–saat yang menenangkan hati
Ketika aku melepas lelah sebab seharian mencari dinar
Kau bermain-main dengan komputer baru mu
Mendengarkan lantunan kyai Kanjeng
Jangan bersedih duhai kekasih
Daku pahami hatimu yang perih
Hadapilah dengan jernih
Berhentilah merintih-rintih
Hingga selesai kemudian terputar lagi
Sampai bulan kian indah menemani dingin angin malam
Itulah yang indah bagiku entah untuk mu
Kini, indah itu sirna hilang
Kau telah pandai mencari ketenangan sendiri
Daun-daun mu mulai naik, menghijau segar
Rantang ku mulai berkarat, tak berarti lagi bagimu
Tahukah kau?
Betapa aku merindukan indah itu
Tapi, haruskah aku berteriak di tengah jalan agar kau tahu?
Berteriak keras bak orang gila?
Tidak, sekali-sekali tidak
Aku tak mau mendekat
Sebab aku tak mengaharap balas bukan pula penjilat
Mungkin, tugas ku telah usai
Kan ku coba menikmati lantunan itu
Tanpa dirimu yang begitu mudah melupakan aku
Jumat, Mei 22, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar