aku berjalan kian tiada berdaya
bayang-bayang itu dengan mudah menyerap hasratku
mengurungku dalam malam kelam
ku perangi dia dengan hatiku
anyir darahku yang mampu mengusir bayang itu
sejuta pesona derai-derai duri
memainkan lagu irama angin-raja neraka
irama itu menitah, menggoda, membuai
angan sadar akan olehnya
tertitah, tergoda, terbuai
tangisku mengalir bersama air sungai ke hilir-hilir
aku, entah rahwana atau siapa
kian abadi, berkembang menebar wangi busuknya
buah bibir teramat manis bukan kepalang (aku)
menebar semut, lalu bertahta mendarah daging dalam jiwa
gerbang batinku dengan dunia fana tertutup rapat
ingin kubuka
membiarkan semilir angin masuk, menyusup-susupi tubuhku
tapi, dua windu sehari yang lalu kunci itu berkarat
aku bingung, sekali lagi bingung, semakin bingung
tangisku terukir di balik sanubari terdalam
ia seolah begitu sayang aku
memeluk erat nyawa batin setiap waktu
sebatang kara tak berayah tak beribu
padaku ia mengaku
sewindu sehari yang lalu, ia datang padaku
Kamis, Juni 11, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar