Kamis, Juni 11, 2009

Aku Berjalan, Menangis

aku berjalan kian tiada berdaya
bayang-bayang itu dengan mudah menyerap hasratku
mengurungku dalam malam kelam
ku perangi dia dengan hatiku
anyir darahku yang mampu mengusir bayang itu

sejuta pesona derai-derai duri
memainkan lagu irama angin-raja neraka
irama itu menitah, menggoda, membuai
angan sadar akan olehnya
tertitah, tergoda, terbuai
tangisku mengalir bersama air sungai ke hilir-hilir

aku, entah rahwana atau siapa
kian abadi, berkembang menebar wangi busuknya
buah bibir teramat manis bukan kepalang (aku)
menebar semut, lalu bertahta mendarah daging dalam jiwa
gerbang batinku dengan dunia fana tertutup rapat
ingin kubuka
membiarkan semilir angin masuk, menyusup-susupi tubuhku
tapi, dua windu sehari yang lalu kunci itu berkarat
aku bingung, sekali lagi bingung, semakin bingung
tangisku terukir di balik sanubari terdalam

ia seolah begitu sayang aku
memeluk erat nyawa batin setiap waktu
sebatang kara tak berayah tak beribu
padaku ia mengaku
sewindu sehari yang lalu, ia datang padaku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar